KeSantuy-an vs kecemasan Warga +62 terhadap Virus Corona

Welcome to indonesia. Negara berkembang dengan berbagai keragamannya.
...
Virus corona yang muncul pertama kali pada akhir tahun 2019 di China saat ini sudah mendunia. Sekarang hampir rata-rata negara di dunia sudah terdampak virus ini. WHO sudah menetapkan status virus ini adalah pandemi.
Corona bukan virus asing lagi, sebab saat ini sudah masuk di negara tercinta ini.  Indonesia tercatat positif corona sejak awal Maret 2020. Tercatat diawal adalah 2 orang dan sampai hari ini per 23 Maret tercatat 579 orang yang positif , 49 orang meninggal, dan 30 orang sembuh. Beragam reaksi muncul dari masyarakat indonesia, ada yang menganggap itu biasa,  ada yang santai-santai saja, ada yang merasakan kecemasan.
Seperti yang saya katakan di atas, selamat datang di Indonesia. Negara berkembang dengan berbagai keragamannya. Mari kita lihat bagaimana kesantuy-an warga negara tercinta kita. Kalau kalian masih ingat, sebelum virus corona terpapar di Indonesia dengan jumawa ada yang membuat statemen " Indonesia bebas corona".  Kalimat itu seolah mengatakan nggak mungkinlah corona masuk Indonesia. Kesantuy-an yang berbau keteledoran itu menyebabkan kekagetan ketika tiba- tiba  ada warga Indonesia yang positif Corona. Indonesia yang sudah membuat prinsip seperti itu di awal membuat negara ini tidak memiliki persiapan apa-apa saat disaster ini muncul. Ketidaksiapan inilah salah satu penyebab pelonjakan yang tinggi dalam waktu yang singkat.
Dengan angka positif terpapar sangat tinggi, sampai saat ini Indonesia belum menetapkan kebijakan untuk lockdown. Hal ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan, terutama kesiapan finance dan keamanan. Karena seperti yang kita tahu, tidak semua masyarakat Indonesia pekerja kantoran, banyak dari mereka adalah pekerja Ojol, tukang becak, tukang bangunan, pedagang asongan, dll, dimana kebanyakan dari mereka mendapatkan upahnya harian. Ya kalau nggak kerja nggak makan.  Akan tetapi Indonesia sudah menetapkan kebijakan untuk pembatasan wilayah, WFH ( Work From Home), dan social distancing, dan kalau diamati secara cermat itu merupakan cicilan dari lockdown atau  lockdown kecil- kecilan. 
Namun apa yang dilakukan warga +62 ? WFH yang merupakan tindakan karantina untuk berkegiatan dirumah saja sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran virus corona sehingga bisa menekan angka lonjakan malah dimanfaatkan sebagai ajang liburan. Mereka pergi ke puncak, pantai, mall, dan nongkrong di cafe-cafe dengan hastag liburan corona. 
Social distancing yang di tetapkan dengan tujuan yang sama juga  banyak yang dilanggar. Even-even besar yang mengundang banyak orang tetap saja nekat dilaksanakan dengan alasan ealah hidup dan mati kita kan ditangan Tuhan, corona itukan cuma makhluk Tuhan tak kasap mata, bla bla bla bla bla.  Contoh saja event tabligh akbar ijtima' Ulama' dunia di Gowa Sulawesi Selatan yang pada akhirnya setuju untuk di tunda, namun sebelum itu di sana sudash berkumpul 8000 jama'ah yang sudah hadir.
Di sisi lain, mudah dan cepatnya persebaran virus corona ini, serta lonjakan angka orang-orang yang positif terinfeksi Corona dan  tingginya angka kematian  juga membuat  masyarakat menjadi cemas. Terhitung Indonesia merupakan negara dengan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara sebab COVID-19. Rasa cemas itu wajar dan normal-normal saja. Hal itu merupakan respon dari diri seseorang terhadap sesuatu yang  mengancam. Jadi wajar saja masyarakat menjadi cemas di tengah disaster pandemi virus corona ini. Akan tetapi cemas yang berlebihan malah akan menimbulkan dampak yang buruk, terutama dari sisi kesehatan. Orang yang cemas akan mempengaruhi imun mereka. Imun mereka menjadi buruk dan malah menjadi rentan terkena virus.
Dan dampaknya pada perilaku adalah panic buying. Apa itu panic buying? Panic buying yang memiliki arti Pembelian panik adalah tindakan membeli barang dalam jumlah besar untuk mengantisipasi suatu bencana, setelah bencana terjadi, atau untuk mengantisipasi kenaikan maupun penurunan harga. Sebelum disaster ini besar orang-orang banyak yang menimbun masker. Dan saat ini ketika disaster semakin besar , mereka membeli masker dan hand sanitzer dengan harga gila-gilaan yang tidak masuk akal. Selain itu, mereka juga membeli bahan pokok yang berlebihan. Melansir dari CNN Indonesia Ketua Pusat Krisis UI Dicky Palupessy mengatakan "Merebaknya virus corona mengakibatkan kita kehilangan untuk mengendalikan perasaan diri atau kehilangan sense of control . Dalam kondisi kehilangan sense of control, maka membeli secara berlebih itu mekanisme psikologis"
Kecemasan ini juga sukses bikin riuh Faskes, rumah sakit, dan tenaga medis. Kekhawatiran mereka terkena virus corona membuat kecemasan ini naik episode menjadi panik, sehingga tanpa berfikir panjang mereka berbondong-bondong datang ke Faskes, Rumah Sakit sekitar untuk memeriksakan diri. Dan pada akhirnya apa jadinya? Mereka yang sebenarnya tidak terpapar virus corona malah menjadi positif COVID-19, karena mereka mendatangi tempat yang sudah jelas-jelas zona beresiko.
Sebagian besar orang yang merasakan  kecemasan adalah mereka orang- orang yang berada pada tingkatan sosial ekonomi rendah. Kenapa mereka yang kebanyakan merasakan kecemasan? Indonesia itu negara berkembang, yang rakyatnya kebanyakan berpendapatan menengah ke bawah. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai ojol, tukang bangunan, pedagang asongan, pedagang keliling, dll. Pekerjaan mereka adalah di daerah beresiko rentan terkena virus, di jalanan dan di ruang terbuka. Mereka berada di ambang kebimbangan. Satu sisi mereka merasakan kecemasan akan virus ini, satu sisi mereka juga berfikir kalo mereka nggak bekerja keluarga nggak akan makan. Pada akhirnya mereka nggak mati gara-gara corona, tapi gara-gara kelaparan. 
Oleh karena itu, untuk yang sedang merasa cemas stop panic buying, mau beli masker, hand sanitzer dengan harga gila-gilaan dan belanja bahan pokok habis-habisan sampai yang lain nggak kebagian. Untuk yang santuy-nya kebangetan dan bilang nyawa kita ditangan tuhan. Njogrok aja sana di tengah jalan raya sambil teriak nyawa saya di tangan Tuhan. Kalo enggak di samber truk tronton. Ayo mulai sadar diri untuk hidup bersih dan sehat. Sering-sering cuci tangan dan Social distancing mulai diterapkan. Untuk  yang punya kewajiban keluar rumah tetap hati-hati dan jaga diri. Mari bersama berjuang melawan corona. Biarkan pemerintah yang mengatur SOP-nya, tenaga medis sebagai garda terdepannya, dan kita yang tidak memiliki keperluan apa-apa tetap stay di rumah saja.

Komentar